No Rekening: Bank Syariah Mandiri 6000 1 6000 6

Imam Al-Ghazali : Memahami Cinta dan Benci

            Dalam cinta dan benci, kita terkadang hanya mampu merasakan, tetapi tidak memahami apa yang terkandung di dalamnya. Cara pandang Imam Al-Ghazali atas perasaan cinta dan benci membuat kita memahami bagaimana kedua perasaan itu sungguh mempunyai keterkaitan yang saling menguatkan.

            Imam Al-Ghazali sangat jernih dalam memaknai hakikat cinta dan benci. Ia mampu melihatnya dari sisi yang terkadang kita mengabaikannya karena kepentingan pragmatis, ketamakan pada materi, serta kenikmatan duniawi.

            Perihal kesejatian cinta dan benci, Imam Al-Ghazali menyebutnya sebagai dua sisi mata uang yang mengekspresikan perasaan insani. Menurutnya, ada empat elemen yang melahirkan energi cinta dan benci dalam setiap diri manusia. Cinta dan benci ada setelah memahami dan mengerti. Cinta melahirkan rasa nikmat dan senang, sedangkan benci melahirkan rasa sakit dan sedih. Ragam cinta bergantung pada penerapan indera, cinta dan benci berkaitan erat dengan moral.

            Tidak ada rasa cinta dan benci, kecuali setelah adanya proses untuk memahami dan mengerti. Setiap seorang tidak akan mencintai sesuatu, kecuali setelah mengetahui dan paham tentang sesuatu tersebut. Karena cinta membutuhkan proses penalaran dan pemahaman, bisa dipastikan bahwa rasa cinta dan benci tidak dikaitkan dengan benda-benda mati.

            Sesuatu yang sehati dengan manusia yang memahami, akan melimpahkan rasa nikmat dan senang. Sesuatu yang tidak sehati dengan orang yang memahami, akan melahirkan rasa sakit dan sedih. Segala sesuatu yang melahirkan rasa nikmat dan senang akan dicintai oleh orang yang mengerti dan memahaminya. Segala sesuatu yang melahirkan rasa sakit dan sedih akan dibenci oleh orang yang mengerti dan memahaminya.

            Dengan demikian, cinta, sejatinya adalah kecenderungan perilaku kepada sesuatu yang nikmat dan menyenangkan. Jika kecenderungan terhadap sesuatu yang nikmat tersebut mendominasi diri seseorang, hal itu disebut Isyq (kerinduan). Sementara itu, benci, sejatinya adalah perilaku menjauh dari sesuatu yang menyakitkan dan memantik kemarahan. Apabila sikap menjauh tersebut mendominasi diri seseorang, hal itu disebut Maqt (kebencian).

            Ragam cinta bergantung pada ragam penyerapan inderawi dan tingkat pemahaman. Kenikmatan mata terwujud saat memandang sesuatu yang indah dan menyejukkan jiwa. Kenikmatan telinga muncul saat kita menyimak lagu-lagu merdu nan apik, demikian seterusnya.

            Jalinan kasih yang menyatukan jiwa adalah buah dari moral baik (khusnul khuluq). Perpecahan yang meretakkan jiwa adalah buah dari moral buruk (su’ul khuluq). Moral baik akan melapangkan jalan hidup, saling mengasihi dan mencintai satu sama lain, saling bersaudara dan bersatu, saling menolong dan peduli. Sebaliknya, moral buruk akan membentangkan jalan hidup untuk saling membenci, memusuhi, saling menjatuhkan dan membinasakan.

            Ketika ditanya mengenai sebab-sebab yang melahirkan rasa cinta dalam diri seseorang, Imam Al Ghazali menjawab, faktor yang melahirkan rasa cinta dalam diri seseorang ada lima; kecintaan terhadap eksistensi diri, kecintaan kepada apresiasi orang, kecintaan terhadap esensi kebaikan itu sendiri, kecintaan kepada keindahan, dan kecintaan berdasarkan kesamaan batin.

            Kecintaan seseorang kepada eksistensi dirinya serta kelangsungan hidupnya. Sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memang mencintai dirinya. Kecenderungan seseorang untuk melanggengkan hidupnya merupakan tabiat dasar manusia. Semua orang pasti berusaha menjauhkan dirinya dari kehancuran. Mereka membenci kematian, sesuatu yang paling dicintai manusia adalah zat dalam dirinya, keselamatan tubuhnya, harta dan anak-anaknya, keluarga, sanak-kerabat, dan kawan-kawannya.

           Kecintaan seseorang kepada orang yang mencintainya. Manusia adalah hamba kebaikan, hati manusia akan condong kepada orang yang berbuat baik kepada dirinya. Dia pasti marah kepada orang berbuat buruk kepada dirinya.

            Kecintaan seseorang kepada esensi kebaikan itu sendiri, yaitu kecintaan seseorang kepada nilai-nilai kebaikan secara murni dan tulus, bukan cinta atribut-atribut yang meliputi sesuatu tersebut.

            Kecintaan seseorang kepada keindahan. Setiap keindahan dan kebagusan akan dicintai oleh sebab adanya kenikmatan yang lahir dari keindahan. Keindahan serta kebagusan itu melintasi batas inderawi, bisa ditemukan pada sesuatu yang tidak kasat mata. Orang-orang jamak menyebut, ini moral baik, ini ilmu baik, si A bermoral baik, dan berkepribadian indah menawan.  

            Kecintaan seseorang kepada sesamanya beralaskan kesamaan batin. Dalam hidup ini banyak orang yang mencintai sesamanya bukan karena faktor kecantikan maupun ketampanan atau atribut duniawi lainnya, melainkan oleh sebab keselarasan batin. Perpaduan batin inilah yang diwartakan Rasulullah Muhammad saw, dalam hadistnya, “Batin yang menyatu akan berkumpul (satu padu), batin yang tidak tercerai berai.

            Kecintaan yang tulus dan jernih merupakan anugerah teragung yang dikaruniakan Allah swt. kepada manusia dan segenap makhluk-Nya. Tanpa cinta, tidak akan pernah ada kehidupan di muka bumi ini, hidup manusia akan kering bila meninggalkan cinta. {}


0 Comments

Tinggalkan Komentar


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode