No Rekening: Bank Syariah Mandiri 6000 1 6000 6

Sayangi Ibu Bapak kita dengan berwakaf

Salah satu ahli ekonomi syariah dunia, Umar chapra, mengatakan bahwa untuk menegakkan ekonomi syariah maka faktor terpenting yang harus dibangun adalah keluarga. Keluarga yang harmonis dan mengukuti ajaran ajaran islam adalah harapan kita semua. Sebagai kepala keluarga, ayah bertanggung jawab untuk bekerja dan menghidupi keluarganya (istri dan anak anak) dan juga bertanggung jawab mengajak keluarga untuk bertakwa pada Allah. Tugas ibu adalah berbakti kepada suami, menjaga dan mendidik anak hingga menjadi anak yang sukses dunia akhirat dimasa depan. Orang tua sudah melakukan yang terbaik agar anak anak menjadi sukses. Lalu dengan apa sekiranya anak bisa membalas kebaikan orang tua. Kewajiban berbuat baik telah secara eksplisit diterangkan dalam al Qur’an Surat Al Isra-23 yang penggalan ayatnya adalah sebagai berikut:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik baiknya....”

Kalau orang tua kita masih sehat, maka banyak yang bisa kita perbuat dalam rangka bakti kita. Misalnya dengan membantu ibu memasak, membantu belanja dan sebagainya. Begitu juga dengan bakti kita pada ayah. Bisa dilakukan dengan membantu tugas tugas kantor yang sekiranya bisa kita lakukan. Kalau orang tua kita sudah tua, kehadiran secara fisik dengan intens sangat perlu agar orang tua bahagia.

Lalu bagaimana kalau sebagian kita sudah tidak punya orangtua lag? Dengan cara bagaimana kita bisa berbakti pada mereka? Mari kita ingat hadist yang menyatakan bahwa terdapat 3 hal yang akan mendapatkan pahala terus menerus walaupun telah meninggal yang salah satunya adalah amal jariyah. Disinilah peran penting wakaf sebagai salah satu bentuk amal jariyah.

Seseorang (sebut saja Yusuf) bisa mendonasikan wakaf dengan mengatasnamakan  orang tuanya (sebut saja Bapak Ahmad) yang telah meninggal. Ini adalah bentuk cinta anak kepada orang tua yang sudah meninggal. Misalnya Yusuf mewakafkan tanah dan bangunannya untuk dijadikan sarana pendidikan dengan mengatasnamakan bapak Ahmad, maka setiap ada murid atau peserta didik yang menggunakan bangunan wakaf tersebut akan ada pahala yang akan mengalir kepada bapak Ahmad. Semakin banyak murid yang menimba ilmu maka semakin banyak pula pahala yang akan mengalir kepada bapak Ahmad.

Contoh lain, apabila kita tidak punya tanah dan bangunan yang akan diwakafkan, cukup dengan memberikan wakaf uang dengan nilai tertentu. Secara tehnis, seseorang harus mendatangi pengelola wakaf (yang biasa disebut nazir), kemudian dia serahkan dana tersebut sebagai wakaf dan mengatasnamakan orang tua dia dan dia tentukan peruntukan wakaf tersebut untuk (misalnya) pembangunan peribadatan (masjid). Ketika masjidnya sudah beroperasi, maka setiap individu yang sholat di masjid tersebut akan ada pahala yang mengalir kepada orang tua dia (yang sudah meninggal) sampai hari kiamat

Percayalah hal hal semacam inilah yang sangat dibutuhkan orang tua orang tua yang telah meninggal. Di alam kubur, mereka membutuhkan tambahan pahala atas aktifitas anak anaknya yaitu dengan berwakaf. Perlu diingat bahwa wakaf juga bisa diatasnamakan kepada orang tua yang masih hidup.

Oleh karena itu, sebagai wujud cinta kasih kita kepada orang tua, baik yang masih sehat maupun yang sudah meninggal, saya mengajak para donatu kotakamal Indonesia semua  berwakaf untuk orang tua. Yang perlu kita lakukan adalah :

      1. Pertama alokasikan sejumlah dana atau aset fisik untuk diwakafkan.

      2. Setelah itu cari lembaga resmi yang mengelola dana dana wakaf.

      3. Serahkan dana wakaf tersebut dengan mengatasnamakan  orang tua beserta peruntukkannya.  

Mudah mudahan orang tua kita akan tersenyum dengan apa yang kita lakukan.

Dengan mendonasikan wakaf untuk orang tua, maka keharmonisan keluarga akan tercipta. Setelah muncul keluarga-keluarga harmonis, maka akan tercipta masyarakat yang juga sesuai dengan nilai nilai Islam. Ketika banyak masyarakat Islam yang tercipta, maka akan tercipta negara yang harmonis. Selanjutnya akan tercipta dunia yang harmonis yang dimaksud oleh Umar Chapra diatas. Wallahu ‘alam

 

Raditya Sukmana

Pembina Yayasan Baiturrahmah Sejahtera dan Ketua Departemen Ekonomi Syariah Universitas Airlangga


0 Comments

Tinggalkan Komentar


Masukan kode ini .... disini: Reload Kode